Sejarah

hubungi kami    +62-813-9379-0976      info@aiptkmi.org

Perhatian masalah kesehatan masyarakat di Indonesia telah dimulai sejak abad ke 16 oleh Pemerintah Belanda. Namun perkembangannya sebagai kajian kesehatan masyarakat, ditandai dengan terjadinya wabah kolera pada tahun 1937 di Eltor, kemudian  tahun 1948 wabah cacar yang masuk ke Indonesia melalui Singapura. Oleh karena dua wabah ini, pemerintah Belanda kemudian melaksanakan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara terprogram untuk mengendalikan dan mencegah. Sejalan dengan itu, pada tahun 1851 didirikan Sekolah Dokter Jawa oleh dr Bosch dan dr. Bleeker. Sekolah ini diberi nana STOVIA (School Tot Oplelding Van Indiche Arsten). Setelah itu, 1913 didirikan sekolah yang kedua di Surabaya, dengan nama NIAS (Nederland Indische Arsten School). Dari kedua sekolah inilah pertama kali berkembang kajian dalam ilmu kesehatan masyarakat, yang kemudian melahirkan dokter-dokter Indonesia yang mengembangkan program kesehatan masyarakat. Pada tahun 1927 STOVIA berubah menjadi  Sekolah Kedokteran, dan tahun 1947 berubah menjadi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, dimana salah satu bagian/departemen yang dikembangkan di dalamnya adalah departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Awal perkembangan pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia dimotivasi oleh perkembangan dunia keilmuan kesehatan masyarakat yang mengalami inovasi dan  perubahan yang sangat cepat, terutama di Amerika dan Inggris, yaitu dari perhatian awal kesehatan masyarakat yang hanya menghubungkan kondisi lingkungan fisik tempat tinggal manusia dengan kejadian penyakit, kemudian memasukkan faktor-faktor baru yaitu inovasi teknik dan perubahan geologi atau iklim, juga mengkaji  faktor keinginan manusia, kebiasaan dan perilaku, serta faktor aspirasi manusia yang selalu berkembang sebagai obyek material disiplin ilmu kesehatan masyarakat.

Tantangan terbesar ketika itu bahwa  pada satu sisi, kajian ilmu  kesehatan berubah sedemikian cepat dengan mengembangkan obyek kajian material dan metodologi untuk siap dengan kajian masa depan yang belum diketahui. George Pickett & John J. Hanlon (2009) menyatakan sebagai periode perkembangan metode berpikir dan bertindak kesehatan masyarakat yang disebut sebagai kajian prospektif, yang tentu berbeda dengan kajian keilmuan dari profesi pengobatan klinis pada saat itu, yang  masih berpikir dan bertindak dengan dasar retrospektif. Kondisi yang sama juga terjadi pada sebagian besar disiplin ilmu termasuk perkembangan disiplin ilmu kedokteran di Indonesia, yang lebih mampu menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan masa lalu dan jarang dapat memberikan solusi bagi masalah terkait masa depan.

Awal  perkembangan disiplin kesehatan masyarakat di Indonesia  justru bukan dimulai perguruan tinggi, tetapi dikembangkan oleh para dokter dan pemerhati kesehatan, baik yang  bekerja di pemerintahan maupun di masyarakat. Mereka menganggap bahwa penggabungan pendekatan retrospektif untuk pendekatan klinis, harus dikembangkan bersama-sama dengan pendekatan prospektif yang menjadi ciri khas perkembangan ilmu kesehatan masyarakat.  Dari titik awal inilah kemudian berkembang disipin ilmu kesehatan masyarakat di perguruan tinggi sebagai kajian, dengan tiga periode perkembangan: Periode Awal atau yang dipelopori oleh Dr. Leimena dan Dr. Fatah, periode Transisi yang di pelopori oleh Del Mochtar dan Dr. Sayono, serta periode Pembaharuan yang menjadi tonggak perkembangan Fakultas Kesehatan Masyarakat saat ini.

Periode Awal (Leimena-Fatah)

Titik awal perkembangan  kesehatan masyarakat di Indonesia  dimulai dari Program  Bandung Plan pada tahun 1951 oleh dr. Leimena dan dr. Fatah (Soekidjo, 2010). Asumsi dasar dalam konsep ini menyebut bahwa;  Dalam  pelayanan kesehatan, aspek kuratif yang mengandalkan pendekatan pada pelayanan kesehatan perorangan haruslah digabungkan dengan aspek promotif preventif yang mengandalkan pelayanan kesehatan masyarakat, dengan demikian, lingkungan fisik dan non-fisik harus mendapat perhatian yang sama, harus menjadi satu kesatuan dalam program. Namun demikian, keterpaduan pendekatan ini dalam praktiknya masih dianggap sebagai  pendekatan retrospektif, yaitu suatu pendekatan berbasis pada masalah penyakit dan perilaku yang terjadi semata-mata pada individu.

Cita-cita Bandung Plan semakin nyata sesuai tujuan programnya yaitu memperjelas peran promotif, preventif dan kuratif  sebagai satu kesatuan dalam kerangka sistem pelayanan kesehatan, ketika dibentuk  program yang lebih fokus  dalam Proyek Percontohan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Lemahabang, Bekasi yang dipimpin oleh Sulianti. Pemikiran yang benar-benar merupakan upaya perpaduan untuk menyandingkan orientasi promotif preventif dengan  kuratif dalam kerangka pelayanan kesehatan primer.

Periode Mochtar

Selain berkembangnya pendekatan retrospektif  di tata di Fakutas Kedoteran, seiring dengan itu, dikembangkan pula ilmu kesehatan masyarakat di  Fakultas Kedokteran dengan metode pendekatan prospektif. Pada tahun 1956,  Professor Mochtar yang kembali dari studi di Universitas Harvard mendirikan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan (IKM-IKP) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dengan orientasi kajian sesuai perkembangan ilmu kesehatan masyarakat yang mengikuti perkembangan di Amerika dan Inggeris.  Selain itu, Professor Mochtar juga melakukan pengajaran ilmu kesehatan masyarakat  di Universitas Gadjah Mada dan Insititut Teknologi Bandung.  Pada periode yang sama, beberapa tokoh kesehatan masyarakat seperti Prof. Sulianti Saroso, Prof. Barmawi Wongso Kusumo dan Prof. Sabdoadi mulai mengajarkan ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Airlangga, yang kemudian menjadi awal berdirinya Bagian IKM-IKP di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Upaya yang dikembangkan dengan menggabungkan pendekatan retrospektif dan prospektif terbukti tidak berjalan sebagaimana diharapkan, karena perbedaan pendekatan, khususnya pada perbedaan metode untuk mempercepat penyelesaian masalah kesehatan. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa para pengajar dari IKM dan IKP merasa sangat perlu  untuk   mendidirkan sebuah Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Pada tahun 1959 Prof. Mochtar mengajukan gagasan ke Rektor UI, untuk membentuk Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Adapun alasan yang diutarakan pada waktu itu adalah pengembangan ilmu kesehatan masyarakat tidak mungkin dapat dilakukan melalui bagian IKM-IKP yang bernaung di bawah Fakultas Kedokteran, karena akan terjadi banyak konflik kepentingan. Sayang sebelum gagasan dapat direalisasikan, pada tanggal 24 Januari 1961 Prof. Mochtar gugur dalam kecelakaan pesawat terbang di Pegunungan Burangrang dalam perjalanan untuk mengajar kesehatan masyarakat di ITB, Bandung.

Tahun 1962, Prof. Sayono Sumodijoyo melanjutkan gagasan tersebut pada tanggal 26 Februari 1965 melalui SK Mendiknas No. 26/1965, berdirilah FKM pertama di Indonesia. Kemudian SK berdirinya FKM UI diperbaiki melalui SK No. 153/1965 dan tanggal berdirinya FKM UI ditetapkan tanggal 1 Juli 1965. Prof. Sayono Sumodijoyo diangkat menjadi Dekan pertama FKM UI. Setelah Universitas Indonesia mendirikan FKM di tahun 1965, kemudian diikuti oleh Universitas Hasanuddin yang mendirikan FKM tahun 1982.

Periode Transisi Menuju Profesionalitas Pendidikan Kesehatan Masyarakat

Pada tahun 1982, atas kerjasama FKM UI dan SPH university of Hawaii maka disusunlah proyek pengembangan 5 FKM Negeri di Indonesia, dengan FKM UI sebagai fakultas pembina. Proyek berlangsung selama 7 tahun dari 25 Agustus 1985 sampai 27 Juni 1992. Tujuan proyek ini adalah :

  1. To provide a sustainable source of trained public health manpower, with the technical knowledge snd skills to manage public health and population services systems with emphasis on diseases prevention and health promotion.
  2. To establish regional public health infromation centers of siginificance in developing an improved quality of life for the Indonesian people.

Proyek ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia melalui Direktoran Jenderal  Pendidikan Tinggi, dan dukungan dana diperoleh dari USAID dan dana pendamping dari Pemerintah Indonesia.

Target yang hendak dicapai pada akhir proyek (1992) adalah :

  1. Berdirinya Fakultas Kesehatan Masyarakat baru di USU, UNDIP dan UNAIR.
  2. Dari ke – 5 FKM menghasilkan lulusan S1 (SKM) sebanyak 1120 pertahun.
  3. Dari FKM UI, UNAIR dan UNHAS dapat menghasilkan lulusan S1 sebanyak 360 pertahun.
  4. Pada ke – 5 FKM memiliki jumlah dosen S2 dan S3 > 45%
  5. FKM UI dapat menyelenggarakan program pendidikan S3 mulai tahun 1987.

Semua target tersebut dapat tercapai di akhir proyek. Sementara itu selama proyek berjalan telah dapat melaksanakan pendidikan tenaga dosen baik didalam maupun diluar negeri dan menghasilkan 72 Magister, 20 Doktor yang 10 diantaranya mengikuti pendidikan di Amerika serikat. Proyek pengembangan 5 FKM Negeri dikoordinasi oleh sebuah Proyek Manajemen Unit (PMU) yang dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan sebagai Direktur Eksekutif adalah  Prof. Does Sampoerno, MPH.

Untuk melanjutkan koordinasi antara 5 FKM tersebut setelah proyek berakhir, maka dibentuklah suatu organisasi yang disebut Badan Kerjasama antar Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesisa yang kemudian disingkat menjadi BKS-FKMI, 27 Juni 1992 yang diketuai oleh Prof. Does Sampoerno, MPH.

Sejak tahun 1995 mulai bermunculan berdirinya Institusi Pendidikan Kesehatan Masyarakat baik negeri maupun swasta di Indonesia. Sebagian besar dari institusi pendidikan tinggi kesmas ingin bergabung dengan BKS – FKMI namun,  mengingat tidak semua institusi adalah berupa fakultas, dimana ada yang menyebut dirinya STIK atau STIKES, maka nama BKS-FKMI tidak lagi tepat untuk digunakan. Pada pertemuan BKS-FKMI tanggal 28 Oktober 2002, sepakat untuk berganti nama menjadi Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia yang kemudian disingkat menjadi AIPTKMI dengan kepengurusan yang masih sama. Pada saat ini, AIPTKMI telah memiliki anggota remsi sebanyak 102 anggota, sementara itu jumlah institusi pendidikan tinggi kesmas yang terdaftar di Dikti telah mencapai lebih dari 172.

©2017 AIPTKMI | Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia